Dilahirkan di kota Thus -sebuah kota yang terletak di Khurasan,
berada di sebelah tenggara Iran- tahun 450 H. Kota ini penuh dengan
perselisihan yang berdimensi agama, karena besarnya jumlah pemeluk
agama Kisten dan pendukung madzhab Syi'ah.
Ayah Al-Ghazali adalah laki-laki fakir dan saleh. Ia hanya makan dari hasil keringat sendiri. Dia berprofesi sebagai pemintal kaun wool dan menjualnya di tokonya di rhus. waktu senggangnya digunakan untuk menghadiri majelis ulama. Ia mengabdi pada para ulama, serius dalam
memberikan pelayanan terbaik, serta menunfut ilmu agama dari mereka.
Jika mendengar ucapan ulama, ia menangis dan memohon kepada Allah
agar dikaruniai anak dan menjadikannya seorang faqih dan ahli menasihati. Maka Allah menganugerahinya dua orang anak, yaitu Al-Ghazali dan saudaranya Ahmad.u Tetapi Allah memanggilnya sebelum menyaksikan impiannya terwujud.
Ia meninggal dunia di saat Al-Ghazali belum mencapai usia baligh. sejarah tidak mencatat banyak hal tentang
ibu Al-Ghazali. Tetapi yang jelas, ia masih sempat menyaksikan kejayaan putranya dalam menggapai derajat keilmuan yang tinggi.
Ayah Al-Ghazali berwasiat kepada temannya yang seorang sufi untuk mengasuh dua putranya, Al-Ghazali dan Ahmad. Ia berkata kepada sufi itu, "Aku tidak mempunyai kesempatan untuk belajar menulis.
Aku ingin kedua anakku ini mewujudkan harapan yang tidak bisa aku capai itu. Engkau bisa menggunakan semua harta yang kutinggalkan untuk membiayai belajar mereka."
Sang sufi melaksanakan wasiat itu. Tatkala ayah Al-Ghazali meninggal dunia, sang sufi mengajar Al-Ghazali dan Ahmad sampai harta peninggalan ayah Al-Ghazali yang sedikit itu habis.
Ketika harta peninggalanm itu habis, ia memasukan Al-Ghazali dan Ahmad ke Madrasah Nizhamiyah. Madrasah ini membantu mereka dalam belajar, dan mencukupi kebutuhan makan dan pakaian mereka.
Al-Ghazali dan Ahmad hidup dalam asuhan sang sufi selama Di bawah bimbingan sufi itu, mereka mampu menghafal Al-Qur,an Al-Karim, mempelajari fiqih, dan meneladani perilaku sang sufi. sufi itu mendidik mereka dan memposisikan diri sebagai ayah yang Penyayang.
Sumber: Tasawuf Antara Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah
