Blogger Jateng

Adzan Anak Lahir


Adzan anak lahir

Si buah hati yang baru lahir tentu membawa kebahagiaan tersendiri bagi bapak ibunya. Ia sebagai tali rekat yang menjalinkan antara kedua orang tuanya yang abadi. Ia sebagai bukti bagi kedua hamba Allah yang telah menorehkan ikatan kasih sayang. Ia juga menjadi harapan bagi kedua orang tuanya yang dapat meneruskan perjalanan ini sampai Hari Kiamat. Jadi, pantas kiranya jika ia lahir disambut dengan berbagai persiapan. Bahkan, jauh sebelum lahir, bagi orang-orang NU, begitu istrinya telah dinyatakan dokter positif hamil maka seribu ikhtiar dan doa ia upayakan agar bayinya lahir selamat, sempurna anggota badannya, panjang umurnya, banyak rezekinya, dan yang pasti, semoga akhirnya menjadi anak yang saleh atau salehah. 

Upaya bersifat medis tentu penting dilakukan, misalnya ikut anjuran dan nasihat dokter. Akan tetapi, upaya batin pun tak kalah pentingnya, yakni mengikuti nasihat agama sebagai landasannya, antara lain: di saat usia kandungan 4 bulan, saat di tiupkan ruh oleh malaikat, hendaknya kita berdoa sesuai hajat kita; dan ketika usia kandung 7 bulan, seyogiannya diadakan acara Tingkeban ( berdoa menyongsong kelahiran),  di samping setiap malam dimohonkan berkah dengan membaca surat Maryam dan surat Yusuf. 

Meskipun demikian, yang jauh lebih berarti ialah upaya orang tua (terutama suami) untuk berjuang sekuat tenaga agar nafkah yang diberikan dan dimakan oleh istri dan janinnya halal, misalnya lewat berdagang, melaut, dan bertani; bukan rezeki yang haram, misalnya dengan mencopet, mencuri, dan merampas. Dengan demikian, anak yang lahir benar-benar anak yang menjadi harapan orang tuanya. Maka, setelah anak lahir kedunia, seyogiannya orang tua menyebutnya bukan dengan kata-kata "selamat datang, hei buah hatiku," tetapi lebih bermakna jika bapaknya menyambutnya dengan adzan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri. Adzan ini akan kelak berpengaruh terhadap si anak di kemudian hari.  (sumber: Adm)